Kenapa Produk Turunan Kelapa Sawit Kita Mandeg?


Oleh : Muhamad Saefrudin

“Kelapa sawit adalah tanaman yang memiliki masa depan gemilang, mampu membuang kemiskinan rakyat dan mampu menyerap jutaan tenaga kerja.” Berkenalan dengan CPO Indonesia Kelapa sawit adalah suatu tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Palmae. Tanaman tropis ini dikenal sebagai penghasil minyak sayur yang berasal dari Amerika. Brazil dipercaya sebagai tempat di mana pertama kali kelapa sawit tumbuh. Dari tempat asalnya, tanaman ini menyebar ke Afrika, Amerika Equatorial, Asia Tenggara, dan Pasifik Selatan. Benih kelapa sawit pertama kali yang ditanam di Indonesia pada tahun 1984 berasal dari Mauritius, Afrika. Perkebunan kelapa sawit pertama dibangun di Tanahitam, Hulu Sumatera Utara oleh Schadt (Jerman) pada tahun 1911. Hasil dari kelapa sawit tersebut kita biasa menyebutnya dengan istilah Crude Palm Oil (CPO) Seiring berjalannya waktu, melihat kondisi kekinian dan kedisinian usaha dari kelapa sawit kita ternyata cukup menjanjikan, dalam sekala besar dapat dijadikan sebagai devisa Negara Indonesia. Telah kita ketahui bersama bahwa saat ini Sawit merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor nasional yang menghasilkan devisa terbesar di sektor nonmigas. Berdasarkan data tahun 2006, Indonesia telah menjadi negara penghasil CPO terbesar di dunia dengan total produksi sekitar 16 juta ton. Sementara negara tetangga kita Malaysia yang selama ini berada pada posisi no.1, saat ini berada pada posisi ke-2 dengan total produksi sebesar 15.8 juta ton (sumber: pidato sambutan kepala BPP Teknologi & berkas sambutan menteri perindustrian RI). Banyak kemudian pengalih fungsian lahan terjadi dibeberapa daerah di Indonesia. Kita ambil contoh saja di daerah Lampung misalnya, tercatat sampai bulan September 2011, nilai ekspor dari CPO di Lampung mencapai 582.983.997 dolar AS meningkat 51,64 persen dibanding tahun lalu periode yang sama dengan nilai 384.459.210 dolar AS. Berdasar data dari Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung, melonjaknya nilai ekspor ini juga diikuti dengan meningkatnya jumlah tonase meski tidak terlalu besar. CPO sendiri merupakan komoditi dengan kontribusi paling tinggi di sektor hasil industri yaitu sebesar 13,54 persen, lebih tinggi dibandingkan karet dengan kontribusi 5,96 persen. Secara agregat Sepanjang tahun 2010, nilai ekspor CPO dan produk turunan sawit Indonesia mencapai US$ 16,4 miliar, naik 50% lebih dari 2009 yang berjumlah US$ 10 miliar. Angka kenaikan yang cukup bombastis, kenaikan ini karena tingginya harga CPO internasional. Sementara itu ketika berbicara konteks dari hasil CPO itu sendiripun sangat luar biasa, dari prespektif ini ternyata banyak sekali produk turunan dari CPO tersebut yang dapat dimanfaatkan dan bernilai jual yang cukup tinggi. Berikut ini adalah beberapa produk turunan dari CPO. 1. Produk turunan CPO. Produk turunan CPO selain minyak goreng kelapa sawit, dapat dihasilkan margarine, shortening, Vanaspati (Vegetable ghee), Ice creams, Bakery Fats, Instans Noodle, Sabun dan Detergent, Cocoa Butter Extender, Chocolate dan Coatings, Specialty Fats, Dry Soap Mixes, Sugar Confectionary, Biskuit Cream Fats, Filled Milk, Lubrication, Textiles Oils dan Bio Diesel. Khusus untuk biodiesel, permintaan akan produk ini pada beberapa tahun mendatang akan semakin meningkat, terutama dengan diterapkannya kebijaksanaan di beberapa negara Eropa dan Jepang untuk menggunakan renewable energy. 2. Produk Turunan Minyak Inti Sawit. Dari produk turunan minyak inti sawit dapat dihasilkan Shortening, Cocoa Butter Substitute, Specialty Fats, Ice Cream, Coffee Whitener/Cream, Sugar Confectionary, Biscuit Cream Fats, Filled Mild, Imitation Cream, Sabun, Detergent, Shampoo dan Kosmetik. 3. Produk Turunan Oleochemicals kelapa sawit. Dari produk turunan minyak kelapa sawit dalam bentuk oleochemical dapat dihasilkan Methyl Esters, Plastic, Textile Processing, Metal Processing, Lubricants, Emulsifiers, Detergent, Glicerine, Cosmetic, Explosives, Pharmaceutical Products dan Food Protective Coatings.Salah satu kebijakan yang masih menjadi kendala adalah bea keluar (BK) Seperti dilansir dalam suatu harian surat kabar dikatakan bahwa Dikatakannya, sejak 16 September ini, pemerintah akan memungut BK tak hanya pada CPO, namun juga pada tandan buah segar (TBS) dan produk-produk turunan CPO seperti Palm Kernel Meal (PKE) atau ampas sawit dan crude palm kernel oil (CPKO). http://regionalinvestment.com Sangat banyak produk turunan yang bisa dihasilkan dari kelapa sawit. Industri ban, emulsifier, kertas, makanan dan minuman, personal care, kaca filem, bahan peledak, sampai kepada bahan bakar. Hanya saja, seperti industri oleo kimia, pertumbuhannya relatif stagnan (Marzan,2007).

Ada apa dengan kebijakan CPO kita ???

Melihat potensi alam dan Sumberdaya yang cukup spektakuler di Indonesia ini pemerintah Di awal tahun 2011 mencoba menerapkan salah satu kebijakan yaitu kebijakan bea keluar (BK) ekspor produk sawit yang diterapkan secara progresif, yang hingga saat ini masih menjadi kendala, adalah bea keluar (BK). Banyak pengamat yang mengatakan bahwa inilah salah satu faktor yang menjadikan CPO kita kalah bersaing dengan Malaysia. Pemerintah berdalih ini dilakukan untuk mengamankan produk dalam negeri. Melalui kebijakan yang baru ini, pemerintah melalui Kementrian Perdagangan menerapkan BK pada TBS dan PK mencapai 40% dengan pajak ekspor US$ 167,20/metrik ton. Untuk BK PKE sebelumnya 0% menjadi 20% dengan pajak ekspor US$25/MT dan BK CPO serta CPKO ditetapkan 16,50% dengan pajak ekspor US$ 167,15/MT dan US$ 218,79/MT. Penetapan BK CPO itu jelas tidak masuk akal, mungkin pemerintah sudah “sakit jiwa”. Hal ini tidak relevan jika diperuntukan sebagai sesuatu hal yang mengamankan kebutuhan di dalam negeri. Karena dari 22 juta ton per tahun produksi TBS, hanya sekitar 6,7 juta ton CPO saja yang bisa diolah di dalam negeri sedang selebihnya harus diekspor untuk memenuhi permintaan pasar luar. “Permintaan CPO terus meningkat seiring dengan produksinya. Jadi BK tidak berpengaruh pada ekspor, seolah-olah pemerintah hanya mau menikmati keuntungan tanpa perlu bekerja apa-apa. Dalam beberapa tahun terakhir perkembangan produk turunan CPO di Indonesia semakin membaik, tetapi tidak secepat yang diharapkan. Lambatnya pertumbuhan industri turunan CPO terkendala sejumlah kebijakan pemerintah. BK progresif mungkin sudah tidak relevan lagi diterapkan karena telah melenceng dari tujuan awalnya untuk menstabilkan harga minyak goreng dalam negeri. Kebijakan tersebut dinilai tidak efektif mendorong hilirisasi industri kelapa sawit.Tapi kemudian BK progresif ini harus bertransformasi menjadi BK-Pro Sinergisasi untuk mengawalai sebuah solusi yang terintegrasi oleh seluruh pihak yang terkait. Dan yang perlu diperhatikan adalah seharusnya dana BK tidak menjadi instrumen penerimaan negara, tapi dikembalikan kepada petani untuk membangun infrastruktur di areal perkebunan, membantu peremajaan tanaman kelapa sawit, atau dana subsidi untuk meredam jika nanti ada kondisi dimana terjadi kenaikan harga minyak goreng di dalam negeri Selain BK persoalan lain yang juga masih menghambat pertumbuhan ekspor CPO Indonesia adalah belum tuntasnya perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Pakistan berlarut-larutnya perundingan itu membuat pasar ekspor sawit mentah Indonesia di Pakistan semakin tergerus karena kalah bersaing dengan produk CPO Malaysia. Malaysia sudah punya kesepakatan sejenis. Karena itu mereka bisa dapatkan bea masuk yang lebih rendah. Implikasinya, tentu harga kita kalah bersaing di pasar Pakistan karena harga CPO Malaysia lebih murah dibandingkan harga CPO Indonesia. Ini akibat perundingan yang berlarut-larut. Sangat disayangkan jika tidak segera dituntaskan. Kementerian Pertanian (Kementan) masih keberatan dengan permintaan Pakistan untuk menghapus bea masuk impor jeruk kino Pakistan. Kementan melihat produk jeruk impor dari China saja sudah sudah ditetapkan bea 0%, takutnya jika jeruk kino juga, maka itu akan mengganggu petani kita. Selain mengkritisi penerapan BK progresif, dan perundingan PTA, dari hasil diskusi dengan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), ternyata kita juga melihat adanya kerluhan banyaknya pungutan yang harus disetorkan produsen kelapa sawit nasional, ini tidak hanya merugikan produsen, tapi juga para petani kecil. Terjadi multiplier effect atau efek domino. Pungutannya bermacam-macam, dari yang resmi sampai yang liar atau pungli, seperti uang kemanan. Menurut informasi yang didapat pungutan untuk jaminan keamanan selama tiga tahun saja sebesar Rp400 juta. Belum lagi jenis-jenis biaya lain yang juga harus disetorkan. nilai pungutan itu jika dijumlahkan bisa mencapai 50% dari pendapatan usaha yang dihasilkan produsen.

Rekomendasi Solusi

Ini lantas bagaimana hal ini seharusnya berjalan, hal ini sudah menjadi permasalahan Indonesia yang cepat atau lambat akan mempengaruhi kondisi perekonomian nasional. Oleh karena itu diperlukan suatu rekomendasi solusi cerdas kedepan jangka panjang yang kemudian ini diberi nama Sinergisasi seluruh stakeholder yang terkait yang menyangkut integrasi teknologi, reformasi pengelolaan dan kemampuan membangun peradaban industri ekonomi kreatif mulai dari hulu sampai hilir, yang diantaranya adalah

1. Peningkatan aktivitas penelitian pada teknologi pembibitan IPB menjadi adalah salah satu institusi terkemuka yang berada digarda terdepan yang konsen pada penelitian terhadap pembibitan, peningkatan teknologi pembibitan ini adalah agar kita mampu menghasilkan bibit kelapa sawit yang unggul dan mampu memenuhi kebutuhan pasokan bibit kelapa sawit Indonesia. Tanpa perlu melirik pasar ekspor bibit kelapa sawit, kebutuhan dalam negeripun sudah sangat banyak. Kita ketahui bersama bahwa Negara seperti Malaysia yang memiliki suatu teknologi pembibitan yang lebih baik, namun di satu sisi memiliki keterbatasan perluasan lahan untuk perkebunan kelapa sawit.

2. Nilai tambah industri hilir. Hal yang sangat terlihat dari produksi sawit kita dalah terkait masih rendahnya kemampuan kita dalam meningkatkan nilai tambah melalui industri hilir sawit. Dengan baiknya prospek industri kelapa sawit kita, dan besarnya dukungan dari pemerintah maupun perbankan, maka kita telah memiliki cukup modal untuk mengembangkan industri hilir kita. Sudah saatnya kita mulai memfokuskan diri kepada industri hilir ini, karena ini akan bisa menjadi multiplier efect bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sejalan dengan strategi pembangunan kita kepada industri dengan nilai tambah yang tinggi dan industri jasa. Kita harus membuat inovasi di produk turunannya sebagai suatu syarat mutlak demi tercipta pembangunan yang berkelanjutan di tataran grass root.

3. Reformasi pengelolaan Peningkatan pelayanan bagi proses perijinan, penghapusan pungutan yang sebetulnya dapat dikatakan sebagai korupsi kecil-kecilan, serta dperlukan adanya perbaikan fasilitas seperti pelabuhan ekspor. Perbaikan pada bidang ini akan mampu menurunkan biaya produksi, menambah tingginya keuntungan dan semakin tersedianya dana untuk penelitian dan pengembangan

4. Tingkatkan kwalitas bibit kelapa sawit Seperti kita ketahui bersama, produk kelapa sawit yang dihasilkan dari bibit yang berkwalitas, akan mampu meningkatkan produk cpo. Dengan demikian, strategi intensifikasi bisa kita jadikan solusi daripada strategi ekstensifikasi yang memiliki dampak berkurangnya hutan tropis kita.

5. Sinergisasi A,B,C,D,E,F,G Academician Akademisi adalah orang yg berpendidikan tinggi, pemikir ulang yang menyayangi ilmunya, berperan penting dalam melakukan kajian dengan pendekatan kajian keilmiahan base on core competence sehingga ada sebuah solusi yang ditawarkan pada suatu permasalahan yang ada kepada seluruh pihak yang terkait. Dalam hal ini ia melakukan kajian riset dan penelitian mendalam berkaitan mengenai permasalahan kelapa sawit dengan data-data terbaik. Businissman Businissman adalah suatu bentuk usaha komersial di dunia perdagangan tidak harus milik pribadi, orientasi lebih kepada profit seluas-luasnya, siapapun dia mulai dari pada umumnya mereka. Secara historis kata bisnis dari bahasa Inggris business, dari kata dasar busy yang berarti “sibuk” dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan. Dalam hal ini dapat ia berperan sebagai pengusaha besar utama pemilik perkebunan kelapa sawit, yang idealnya juga memperhatikan keberlanjutan produktifitas dari CPO. Community Community atau biasa kita sebut dengan istilah komunitas ialah sekelompok orang yg hidup dan saling berinteraksi di suatu daerah tertentu, masyarakat, paguyuban, di dalamnya termasuk organisasi yang ada di masyarakat termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat. Dalam hal ini berperan untuk memberikan dukungan moril. Development Pengembang suatu produk atau jasa, pada umunya mengatasnamakan suatu lembaga atau personal. Dalam hal ini ia berperan penting dalam mengembangkan suatu proyek Perkebunan Kelapa Sawit, karena ia memiliki kelebihan diantaranya modal, ide dan gagasan yang dapat didistribusikan yang output akhirnya adalah kesejahteraan petani dan pengembangan industry perkebunan kelapa sawit beserta keberlanjutannya. Entrepreneur Adalah suatu bentuk usaha milik pribadi, Wirausaha sebutan lainnya lebih mengutamakan keuletan, kebulatan tekad dan keberlanjutan usahanya dalam jangka panjang. dituntut untuk lebih banyak memperhatikan aspek-aspek sosial dan menerapkan etika bisnis secara jujur. Dalam hal iini berperan pada tataran produk turunan dari CPO yang kemudian di breakdown menjadi beberapa produk siap konsumsi sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh penduduk dalam negeri dan pada akhirnya akan meningkatkan konsumsi terhadap produk dalam negeri. Farmer Bermakna petani dalam arti luas, meliputi Petani Kelapa Sawit, Nelayan, Peternak dan lain sebagainya yang berfungsi menjaga keseimbangan produktifitas secara agregat sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan dan non pangan dalam negeri, sehingga akan saling memberikan eksternalitas yang pada akhirnya akan mempengaruhi kestabilan harga sawit nasional. Government Pemerintah dalam hal ini sebagai pemangku kebijakan dalam suatu Negara, memberikan kebijakan terhadap keberlanjutan produksi CPO ia juga berperan untuk memberikan kontribusi yang idealnya berorientasi pada kesejahteraan rakyat yang seluas-luasnya. Permasalahan di atas hanya akan menjadi suatu kajian yang normatif, jika dan hanya jika hanya hanya menjadi tulisan dan dibaca tanpa di resapi dengan keyakinan yang kuat, yang menghujam keras kedalam hati dan mengalir deras kedalam jiwa dan raga ini, serta diaplikasikan dalam setiap keseluruhan aktifitas kehidupan kita yang berperan sebagai kaum akademisi. Permasalahan di atas yang sudah seperti benang kusut hanya dapat di selesaikan dengan bersama-sama dan semua menyadari betapa penting perannya masing-masing sehingga ada semacam tanggung jawab social yang harus di jalankan, demi terciptanya Indonesia yang jauh lebih baik, tentunya melalui pendekatan Sinergisasi A,B,C,D,E,F,G Hidup Mahasiswa, Hidup Pertanian Indonesia Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/komunitas#ixzz1d3mGWMrk

Advertisements